Rabu, 01 Mei 2013

PERAN MAHASISWA DALAM MENGHADAPI KEJADIAN-KEJADIAN BENCANA

BANJIR YANG KERAP TERJADI DI NEGARA INDONESIA.
Bencana merupakan peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan, baik oleh faktor alam dan/atau faktor nonalam maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak psikologis. Jenis bencana yang terjadi karena faktor alam dapat digolongakan menjadi bencana yang berupa gempa bumi, tsunami, gunung meletus, banjir, kekeringan, angin topan, dan tanah longsor.
Seperti bencana yang akhir-akhir ini sering terjadi di Indonesia, yang telah merenggut banyak korban jiwa dan menimbulkan kerugian yang besar. Bencana yang terjadi sekarang ini selain karena usia bumi yang sudah tua, bencana juga merupakan akibat dari ulah manusia yang tidak peduli dengan lingkungan sekitarnya. Manusia berlaku seenaknya dan memaksimalkan pemanfaatan sumber daya yang ada tanpa melaksanakan reboisasi dan pemeliharaan. Sebenarnya apabila manusia mau peduli terhadap lingkungan sekitar khususnya lingkungan alam, maka bencana yang akhir-akhir ini sering terjadi dapat diminimalisir. Sehingga tidak banyak menelan korban dan kerugian yang harus ditanggung oleh bangsa ini.
Misalnya, bencana alam yang berupa banjir di Wasior. Wahana Lingkungan Hidup Indonesia menilai banjir bandang di Wasior, Kabupaten Teluk Wondama, karena penebangan liar di suaka alam Gunung Wondiboi. Tidak adanya resapan air menyebabkan Sungai Angris dan Kiot meluap. Manager Desk Bencana Walhi, Irhash Ahmady, mengatakan, penebangan hutan di Papua dilakukan secara legal dan ilegal. Penebangan legal dilakukan oleh perusahaan yang mendapatkan izin konsesi namun disalahgunakan untuk menebang kayu di luar wilayah. ”Faktor penyebab terbesar (banjir Wasior) kerusakan hutan. Karena penebangan kayu yang merusak,” kata Irhash Ahmady di kantor Walhi, Senin (11/10). Menurut Irhash, meningkatnya curah hujan tidak dapat dijadikan penyebab tunggal terjadinya banjir. Penyebab utama adalah kerusakan hutan yang menyebabkan hilangnya resapan air. Berdasarkan data Walhi, sejak 1990-an terdapat 2 perusahan kayu besar, PT Dharma Mukti Persada dan PT Mutiara Timur, yang beroperasi di Papua Barat. Setelah tahun 2002, Pemerintah Provinsi Papua Barat mengeluarkan 20 izin pengelolaan hutan dan 16 konsesi kuasa pertambangan. ”Kami menyimpulakan penyebab utama banjir karena meningkatnya kerentanan di wilayah hulu,” ujar Irhash. Menurut Irhash, tidak terdapat HPH di suaka alam Gunung Woniboi. Diduga perusahaan kayu mengambil alih izin pemanfaatan hutan milik masyarakat adat melalui Koperasi Peran Serta Masyarakat (Kopermas). ”Dari 20 Kopermas yang terdaftar yang masih aktif hanya dua. Sisanya tidak berjalan sama sekali. Kami menduga, yang tidak berjalan ini dimafaatkan oleh perusahaan HPH untuk mengalihfungsikan suaka alam.”
Sebenarnya, banjir dapat dicegah apabila seseorang mau peduli dengan kelestarian lingkungan sekitarnya yaitu dengan tetap menjaga kelestarian hutan atau melaksanakan penanaman kembali bibit-bibit pohon yang ditebangi sesuai dengan struktur tanah yang ada. Sehingga, meskipun pohon-pohon tersebut dimanfaatkan secara maksimal dan terus menerus, kemungkinan untuk terjadi banjir dan tanah longsor sangat kecil dan jarang terjadi.
Sebagai generasi muda yang mempunyai semangat yang besar, kreatif dan inovatif, hendaknya kita dapat melakukan banyak hal untuk bangsa ini, khususnya dalam penanggulangan bencana. Dimulai dari langkah yang kecil, yaitu kesadaran dari setiap orang untuk membuang sampah pada tempatnya dan mau memelihara tumbuh-tumbuhan yang dapat menyerap banyak air. Sehingga ketika hujan turun, maka air hujan yang ada dapat diserap dan disimpan oleh tumbuh-tumbuhan yang pastinya didukung dengan membuangan sampah pada tempatnya. Apabila dua hal tersebut dilakukan secara beriringan, maka untuk terjadi banjir kemungkinan sangat kecil, malah justru akan tercipta suasana yang sejuk dan tidak terjadi kekeringan karena persediaan air selalu ada.
Dengan mengingat bencana yang kerap terjadi akhir-akhir ini, kita sebagai warga negara yang baik, maka kita mempunyai tanggung jawab yang besar untuk menjaga kelangsungan hidup dan kelestarian alam. Karena dari alam inilah kita bisa hidup, tanpa adanya alam mungkin kita tidak dapat hidup sampai detik ini. Maka, sudah sepantasnya kita dapat melakukan hal kecil yang dapat membesarkan dan memperpanjang usia bumi pertiwi ini. Selain peduli terhadap lingkungan, hendaknya kita juga peduli terhadap sesama meskipun itu hanya dalam bentuk kalimat pengingat saja. Dan sudah sepantasnya kita mau membantu saudara-saudara kita yang menjadi korbana bencana yang sering terjadi akhir-akhir ini, baik dalam bentuk material maupun dalam bentuk dukungan spiritual. Selain itu, sebagai manusia yang mendapat kesempatan untuk belajar lebih, kita dapat memaksimalkan kemampuan kita untuk melaksanakan penelitian dan menciptakan penemuan-penemuan baru yang dapat bermanfaat bagi kelangsungan dan kelestarian bumi ini. Serta, kita dapat memberikan informasi tentang lingkungan alam, baik tentang cara pemeliharaan alam yang baik dan benar yang sesuai dengan kondisi yang ada di lingkungan masyarakat, memberikan informasi tentang dampak dan bahaya yang mungkin terjadi apabila tidak dilakukannya pemeliharaan kelestarian lingkungan. Sehingga, dengan adanya penyampaian informasi tersebut, diharapkan masyarakat mampu memahami dan melaksanakan upaya-upaya dalam pemeliharaan dan peningkatan kualitas lingkungan alam sekitar yang mempunyai peran penting dalam kelangsungan kehidupan ini. Karena dengan saling mengingatkan dan bertukar informasi dengan orang lain, maka akan semakin banyak ilmu yang dapat diperoleh yang nantinya berguna untuk kepentingan seluruh manusia didunia ini, khususnya masyarakat yang ada di Indonesia.
Sesungguhnya roda kehidupan selalu berputar, namun terkadang kita tidak menyadari bahwa apa yang sedang menimpa diri kita pernah juga menimpa oleh orang lain. Dan tidak menutup kemungkinan apa yang sedang menimpa orang lain, suatu saat nanti akan menimpa diri kita. Maka dengan mengingat hal demikian, kita patut bersyukur atas nikmat yang telah dilimpahakan oleh Tuhan Yang Maha Esa kepada kita. Karena dengan bersyukur kita dapat mengontrol diri kita dan kita merasa cukup atas nikmat yang kita terima.
Referensi :
- VHRmedia.com, Jakarta
- Inilah.com, Jakarta
- Ilmu Pengetahuan Alam SMP kelas 2,
- Liputan6.com, Wasior
- Blog Seta Wiriawan, Pengertian Bencana
- blog Munawar AM, Pengertian dan Istilah-Istilah Bencana Alam

Mahasiswa dan Bencana

Peranan Para Mahasiswa Untuk Turut Membantu Korban Bencana Alam
Belum lama ini pandangan kita telah tertuju pada beberapa bencana yang akhir-akhir ini menimpa di bumi pertiwi, air mata yang mengalir dari wajah-wajah saudara kita yang tertunduk sedih meratapi apa yang sebenarnya telah mereka alami. Beberapa pasang mata di seantero negeri ini pun turut merasakan duka dan sedih yang mendalam, membayangkan segala kepedihan yang dihadapi oleh ribuan orang di daerah yang tengah dilanda bencana. Mereka tak kuasa menolak apa yang telah menjadi takdir dari Sang Maha Pencipta, mereka pasrah sembari berharap hari esok akan kembali lagi meski harus kehilangan beberapa harta benda bahkan anggota keluarganya yang ikut menjadi korban dari kedahsyatan bencana alam yang membuat luluh lantak rumah dan perkampungan mereka. Meskipun begitu, tetap saja hati mereka masih dihantui perasaan khawatir disamping kesedihan yang masih menghujam perasaan mereka mengingat bagaimana bencana itu memporak-porandakan segala sesuatu yang ada disekitarnya.
Tak hanya itu, bencana terjadi dalam waktu yang dekat dan beruntun seolah-olah menggambarkan kalung mutiara yang terlepas dari benangnya membuat hati kita terenyuh sekaligus prihatin terhadap segala cobaan yag harus kita terima ini. Tetapi tidak terlepas dari itu semua, sebenarnya hal ini dapat dijelaskan secara geologis menurut letak wilayah Indonesia yang dilalui oleh dua jalur pegunungan muda dunia yaitu Pegunungan Mediterania di sebelah barat dan Pegunungan Sirkum Pasifik di sebelah timur menyebabkan Indonesia banyak memiliki gunung api yang aktif dan rawan terjadi bencana. Bencana alam yang sering terjadi di wilayah Indonesia antara lain : banjir, kemarau panjang, tsunami, gempa bumi, gunung berapi dan tanah longsor.
Masih teringat di benak kita kejadian yang maha dahsyat yang terjadi di Provinsi Aceh dan sekitarnya, gempa dan tsunami yang menelan banyak korban dan menimbulkan trauma yang cukup mendalam bagi masyarakatnya, belum lagi gempa yang terjadi di daerah DIY sekitarnya yang juga menimbulkan banyak kerusakan dan korban jiwa serta kepanikan warga akan terjadinya tsunami. Selain itu, akhir-akhir ini kita diberikan teguran lagi oleh Sang Khaliq berupa bencana yang menimpa saudara kita yang ada di Wasior Papua seperti dikutip dari vivanews.com tanggal 27 November 2010, “Dwikorita seorang ahli gempa dan lingkungan dari Universitas Gadjah Mada menceritakan sedikit kronologi singkat gempa yang mengakibatkan banjir bandang yang terjadi pada 4 Oktober 2010 dan menewaskan 173 orang dan 118 lainnya masih hilang. Gempa itu disebabkan akibat adanya tumbukan antara lempeng tektonik Samudera Pasifik ke Benua Australia. Belum lagi, di lokasi Wasior dan sekitarnya itu memiliki karakteristik batuan yang sangat rapuh. Sesaat sebelum banjir bandang terjadi, hujan besar dengan intensitas yang sangat ekstrim terjadi di lokasi itu. Ekstrim, karena curah hujannya mencapai 170 milimeter hanya dalam waktu beberapa jam pada hari itu. Normalnya, curah hujan itu hanya mencapai 200 milimeter perbulan, bukan perhari”. Setelah itu ada kejadian gempa 7,2 skala richter yang menyebabkan tsunami di Mentawai tanggal 25 Oktober 2010 dengan korban tewas lebih dari 450 orang serta merusakkan 700 rumah lebih. Tak lama selang satu hari dari kejadian tsunami mentawai tepatnya pada tanggal 26 Oktober 2010 warga di sekitar gunung Merapi meliputi daerah kabupaten Sleman, Boyolali, Klaten, Magelang dan Muntilan harus menuai dampak letusan gunung Merapi yang sering disebut sebagai gunung berapi teraktif di dunia. Puluhan hingga ratusan orang menjadi korban tewas dan ratusan ribu penduduk harus diungsikan akibat dari erupsi Merapi ini. Terakhir, Gunung Bromo di Jawa Timur yang berstatus awas meletus pada pukul 17.40, Jumat 26 November 2010. Asap tebal bercampur abu kehitaman mencapai ketinggian 600 meter.
Banyak kerugian yang diakibatkan oleh bencana alam tersebut di atas antara lain kerusakan rumah dan bangunan, sarana prasarana umum, hewan atau ternak yang mati, tanaman yang mati sehingga mengakibatkan gagal panen sampai dengan kerugian yang diakibatkan oleh lumpuhnya sektor pariwisata dan perdagangan. Kerugian secara materi ini otomatis membawa dampak terhadap perekonomian di daerah masing-masing karena dibutuhkan biaya yang cukup besar untuk dapat menggantikan kerugian sekaligus memperbaiki segala kerusakan yang ditimbulkan akibat bencana tersebut.
Beberapa peristiwa di atas setidaknya telah memberikan pelajaran dan hikmah bagi kita sebagai sesama manusia dan seseorang yang hidup bersama dalam satu negara dan bangsa Indonesia untuk memberikan segala sesuatu yang kita miliki guna meringankan beban saudara-saudara kita. Tak terkecuali kita yang sedang duduk di bangku perkuliahan dengan beberapa macam potensi yang dimiliki dan telah mendapatkan pendidikan, pengetahuan, keterampilan, dan sikap sehingga diharapkan dapat memberikan manfaat lebih dalam mengatasi bencana alam atau sebisa mungkin mencegah terjadinya bencana yang diakibatkan oleh perilaku pengrusakan lingkungan oknum-oknum yang tidak bertanggungjawab. Sebagai seorang mahasiswa hendaknya kita menyadari bahwa peran aktif kita untuk turut serta membantu korban bencana sangat diperlukan, apapun itu bentuknya. Seperti mahasiswa kedokteran yang dapat membantu melakukan pertolongan pertama bagi korban yang terluka, mahasiswa psikologis yang dapat membantu memberikan motivasi dan hiburan bagi korban bencana yang mengalami trauma, mahasiswa teknik yang dapat menyumbangkan ide atau gagasan untuk pembangunan kembali pasca bencana hingga mahasiswa kedokteran hewan yang membantu merawat ternak korban bencana yang terkena dampaknya. Dari hal-hal kecil yang sering terlupakan terutama untuk masalah yang berkaitan dengan keadaan lingkungan, tentu hal ini juga membutuhkan peran serta aktif dari mahasiswa untuk dapat melaksanakan dan mensosialisasikan terhadap masyarakat dalam menjaga dan melestarikan lingkungan yang dapat dimulai dari lingkungan disekitar tempat tinggalnya. Doa dan dukungan dari para mahasiswa juga merupakan bantuan yang tak kalah pentingnya agar bencana di negeri ini dapat disudahi. Lebih jauh lagi, sampai kita memberikan pertolongan atau bantuan untuk korban bencana ini didasarkan sebagai suatu panggilan hati yang benar-benar tulus ingin membantu saudara kita yang sedang tertimpa musibah dan tidaklah mengharapkan imbalan dari apa-apa yang telah kita berikan untuk mereka.
Mahasiswa adalah bagian dari masyarakat dan sudah sewajarnya apabila mereka harus kembali kepada masyarakat untuk mengabdikan dirinya demi kemajuan dan kesejahteraan bangsa dan negara. Seperti yang telah dikatakan oleh para pepatah, sebaik-baiknya seseorang ialah seseorang bermanfaat bagi dirinya sendiri maupun orang lain. Jadi, meski banyak hal bisa kita lakukan untuk membantu mereka yang tertimpa musibah bencana tetapi tanpa adanya perbuatan (action)itu sama saja karena yang mereka butuhkan ialah bukti bukan janji atau ucapan semata.

peran mahasiswa dalam penanggulangan bencana alam

Peranan mahasiswa dalam menghadapi kejadian-kejadian bencana tsunami, banjir, gunung meletus, gempa atau sejenisnya yang kerap terjadi di negara Indonesia
Kaum muda Indonesia adalah masa depan bangsa. Karena itu, setiap pemuda Indonesia, baik yang masih berstatus sebagai pelajar, mahasiswa, ataupun yang sudah menyelesaikan pendidikannya adalah aktor-aktor penting yang sangat diandalkan untuk mewujudkan cita-cita pencerahan kehidupan bangsa kita di masa depan.
Mahasiswa sebenarnya sangat potensial untuk ikut serta menangani
bencana alam di Indonesia. Dengan bekal akademik serta pamor
mahasiswa yang terbukti paling peduli terhadap persoalan bangsa,
cukuplah sebagai modal bagi institusi ini untuk berpartisipasi
aktif menanggulangi bencana- bencana di Indonesia. Apalagi setelah
menyadari kondisi geografis Indonesia yang dilalui deretan gunung
berapi dan lautan membuat negara ini rentan terhadap bencana alam,
maka uluran tangan dari kita akan terus dibutuhkan.
Belakangan ini berita mengenai bencana alam mendominasi
halaman – halaman media massa. Mulai dari angin kencang, tanah
longsor, puting beliung hingga banjir bandang di Wasior Papua
Barat. Untuk bencana banjir di Wasior sendiri telah memakan
puluhan korban, ratusan lukaluka, dan ribuan penduduk yang harus
rela kehilangan tempat tinggalnya.
Lalu apa yang dapat kita lakukan sebagai mahasiswa dalam menanggapi
merebaknya bencana alam yang cenderung sulit diprediksi secara
pasti ini?
Selama ini kita hanya menganggap alam sebagai alat. Alat pemuas segala nafsu dunia , namun kita tak pernah tahu bahwa alam juga mendengar. Dia juga merasakan apa yang selayaknya kita rasakan, senang, bahagia , sedih bahkan murka. Bencana tsunami dan gunung meletus baru-baru ini hanyalah sedikit contoh betapa kita harus mulai ‘Sadar’ dari segala ‘kemewahan’ yang kita rasakan.
Seperti layaknya pepatah “Tidak ada kata terlambat, selama kita masih mau berusaha”. Demikian halnya dengan kita. Bencana yang datang silih berganti jangan sampai “membunuh” semangat kita untuk berubah. Marilah kita tata kembali kehidupan kita dengan nyaman dan berdampingan dengan alam. Sistem pembangunan yang selama ini kita anut kurang memperhatikan faktor alam yang ada, sudah saatnya sistem kuno ini kita rubah dengan sistem baru yang lebih berbasis lingkungan. Para arsitek dan insinyur bangunan haruslah memperhatikan dampak pembangunan sebuah gedung terhadap lingkungan di sekitarnya. Tak hanya cantik dilihat dan kokoh namun bangunan tersebut haruslah bersinergi dengan alam. Perundang – undangan yang selama ini mengatur tentang tata laksana konstruksi sebuah bangunan juga harus dirubah. Harus ada aturan yang tegas untuk melarang didirikannya bangunan di lahan lahan daerah resapan air, lereng – lereng gunung serta bukit. Selain itu Ketegasan pemerintah dalam menghukum para pelaku pembalakan liar harus digalakkan karena fungsi hutan sangatlah kompleks untuk menjaga keseimbangan alam kita.
Selain hal tadi, peranan kita sebagai mahasiswa adalah segera tanpa “dikomando” melakukan aksi penggalangan dana untuk bencana alam dan ikut menjadi relawan untuk membantu para pengungsi. Beberapa teman saya telah melakukan hal ini. Satu hal yang saya pelajari dari mereka adalah rasa ikhlas dan semangat mereka untuk membantu sesama. Seperti perkataan seorang relawan yang diwawancarai di salah satu TV swasta, beliau mengatakan bahwa “Kepuasan batin untuk membantu sesama itu tidak dapat di ukur dengan limpahan harta dan materi tetapi ini adalah sebuah panggilan dari jiwa!” . Dan memang benar adanya perkataan beliau, para relawan yang selama ini membantu para pengungsi mulai dari evakuasi, menyiapkan barak pengungsian, mendirikan barak pengungsian dan posko kesehatan rela mengorbankan waktu, tenaga bahkan nyawa demi melihat saudara – saudara kita selamat.
Indonesia benar benar sedang di uji oleh Allah swt. Belum hilang kesedihan kita atas terjadinya bencana tsunami yang menimpa saudara kita di wasior papua yang merenggut ribuan nyawa manusia dan meluluhratakan semua yang ada di tanah wasior, pada awal bulan November terjadi bencana gunung meletus di Yogyakarta .Dalam jangka waktu 1 minggu terjadi 2 kali letusan yang dahsyat pada malam hari. Pada letusan pertama sebetulnya dari pemerintah maupun dari BMG sudah memberi peringatan kepada warga yang tinggal di puncak gunung merapi untuk turun tetapi dari warga sendiri banyak yang masih tetap tinggal di rumah mereka alhasil korban yang terkena letusan merapi sangatlah banyak. Pada letusan kedua korban semakin bertambah karena tempat yang tadinya di anggap aman 15 km dari puncak merapi ternyata terkena juga. Dalam kejadian ini peran mahasiswa sangatlah membantu, mereka bergerak cepat untuk membantu korban bencana merapi ini dengan melakukan penggalangan dana serta langsung terjun kelapangan untuk menghibur saudara2 kita yang terkena musibah serta membantu tim peng evakuasian. Dibantu dengan masyarakat sekitar mahasiswa membantu menangani permaslahan-permasalahan yang terjadi pada koraban, mereka bergotong royong untuk menghibur mereka dan berusaha memberikan mereka kenyamanan di barak pengungsian setelah pasca bencana dan kuliah sudah mulai aktif mahasiwa tetap dituntut untuk membantu karena kita adalah mahasiswa dan mahasiswa memiliki kewajiban untuk mengabdi kepada masyarakat untuk membantu mereka baik materi, tenaga dan pemikiran bagaiman setelah pasca bencana ini mahasiswa dapat membantu masyarakat menyalurkan keluhan-keluhan mereka terhadap pemerintah yang kadang dan sering kali kurang peka terhadap keadaan yang ada di masyarakat. Maka dari itu disini peranan pemerintah sangatlah penting dimana pemerintah harus mampua menyelamatkan parakorban – korban bencana yang terjadi ini jangan sampai mereka menderita kedua kalinya, sudah terlalu banyak korban meninggal, anak kehilangan orang tuanya, orang menjadi gila karena kehilangan masadepan mereka. Jangan sampai pemerintah menambah kesakitan mereka lagi dengan melakukan sesuatu yang itu menyakitkan bangsaini. Masih kita ingat di benak kita waktu bencana – bencana melan da Indonesia apa yang wakil rakyat lakukan ketika terjadi bencana, mereka malah jalan – jalan keluar negeri dengan menghambur – hamburkan uang bermilyar – milyar yang sebetulnya alangkah lebih bijak dan manusiawi mereka sebagai wakil rakyat kalau saja mereka merelakan uang mereka yang mereka gunakan untuk jalan – jalan mereka gunakan untuk rakyat yang sedang menderita ini. Diharapkan pemerintah tidak lamban lagi dalam menghadapi benca yang melanda bangsa ini dan segera membiri masa depan mereka yang baru.

falsafah jawa

falsafah ajaran hidup jawa  memiliki tiga aras dasar utama

Yaitu:
aras sadar ber-Tuhan, aras kesadaran semesta dan aras keberadaban manusia.
Aras keberadaban manusia implementasinya dalam ujud budi pekerti luhur. Maka di dalam Falsafah Ajaran Hidup Jawa ada ajaran keutamaan hidup yang diistilahkan dalam bahasa Jawa sebagai piwulang (wewarah) kautaman.
Secara alamiah manusia sudah terbekali kemampuan untuk membedakan perbuatan benar dan salah serta perbuatan baik dan buruk. Maka peranan Piwulang Kautaman adalah upaya pembelajaran untuk mempertajam kemampuan tersebut serta mengajarkan kepada manusia untuk selalu memilih perbuatan yang benar dan baik menjauhi yang salah dan buruk.
Namun demikian, pemilihan yang benar dan baik saja tidaklah cukup untuk memandu setiap individu dalam berintegrasi dalam kehidupan bersama atau bermasyarakat.
Oleh karena itu, dalam Piwulang Kautaman juga diajarkan pengenalan budi luhur dan budi asor dimana

Misalnya : 
tepa selira dan mulat sarira, mikul dhuwur mendhem jero, dan alon-alon waton kelakon.
Filosofi yang ada dibalik kalimat sesanti atau unen-unen tersebut tidak cukup sekedar dipahami dengan menterjemahkan makna kata-kata dalam kalimat tersebut.
Oleh karena itu sering terjadi ”salah mengerti” dari para pihak yang bukan Jawa. Juga oleh kebanyakan orang Jawa sendiri. Akibatnya ada anggapan bahwa sesanti dan unen-unen Jawa sebagai anti-logis atau dianggap bertentangan dengan logika umum. Akibat selanjutnya berupa kemalasan orang Jawa sendiri untuk mendalami makna sesanti dan unen-unen yang ada pada khasanah budaya dan peradabannya.
Namun kemudian, sesanti dan unen-unen tersebut dijadikan olok-olok dalam kehidupan masyarakat.
Mulat sarira dan tepa selira diartikan bahwa Jawa sangat toleran dengan perbuatan KKN yang dilakukan kerabat dan golongannya. pilihan manusia hendaknya kepada budi luhur. Dengan demikian setiap individu atau person menjadi terpandu untuk selalu menjalani hidup bermasyarakat secara benar, baik dan pener (tepat, pas).

Cukup banyak piwulang kautaman dalam ajaran hidup cara Jawa. Ada yang berupa tembang-tembang sebagaimana Wulangreh, Wedhatama, Tripama, dll. Ada pula yang berupa sesanti atau unen-unen yang mengandung pengertian luas dan mendalam tentang makna budi luhur.

Mikul dhuwur mendhem jero 
dimaknai untuk tidak mengadili orangtua dan pemimpin yang bersalah.
Alon-alon waton kelakon dianggap mengajarkan kemalasan.
Padahal ajaran sesungguhnya dari sesanti dan unen-unen tersebut adalah pembekalan watak bagi setiap individu untuk hidup bersama atau bermasyarakat. Tujuan utamanya adalah terbangunnya kehidupan bersama yang rukun, dami dan sejahtera. Bukan sebagai dalil pembenar perbuatan salah, buruk dan tergolong budi asor. Makna dari mulat sarira dan tepa selira adalah untuk selalu mengoperasionalkan rasa pangrasa dalam bergaul dengan orang lain.

Mulat sarira,


mengajarkan untuk selalu instropeksi akan diri sendiri.”Aku ini apa? Aku ini siapa? Aku ini akan kemana? Aku ini mengapa ada?” Kesadaran untuk selalu instropeksi pada diri sendiri akan melahirkan watak tepa selira, berempati secara terus menerus kepada sesama umat manusia. Kebebasan individu akan berakhir ketika individu yang lain juga berkehendak atau merasa bebas. Maka pemahaman mulat sarira dan tepa selira merupakan bekal kepada setiap individu yang mencitakan kebebasan dalam hidup bersama-sama, bukan ?



Mikul dhuwur mendhem jero, meskipun dimaksudkan untuk selalu menghormat kepada orangtua dan pemimpin, namun tidak membutakan diri untuk menilai perbuatan orangtua dan pemimpin. Karena yang tua dan pemimpin juga memiliki kewajiban yang sama untuk selalu melakukan perbuatan yang benar, baik dan pener. Justru yang tua dan pemimpin dituntut ”lebih” dalam mengaktualisasikan budi pekerti luhur. Orangtua yang tidak memiliki budi luhur disebut tuwa tuwas lir sepah samun. Orangtua yang tidak ada guna dan makna sehingga tidak pantas ditauladani. Pemimpin yang tidak memiliki budi luhur juga bukan pemimpin.
Alon-alon waton kelakon, bukan ajaran untuk bermalas-malasan. Namun merupakan ajaran untuk selalu mengoperasionalkan watak sabar, setia kepada cita-cita sambil menyadari akan kapasitas diri.
Contoh yang mudah dipahami ada dalam dunia pendidikan tinggi.

Normatif setiap mahasiswa untuk bisa menyelesaikan kuliah Strata I dibutuhkan waktu 8 semester. Namun kapasitas setiap mahasiswa tidaklah sama. Hanya sedikit yang memiliki kemampuan untuk selesai kuliah 8 semester tersebut. Sedikit pula yang prestasinya cum-laude dan memuaskan. Rata-rata biasa dan selesai kuliah lebih dari 8 semester. Dengan mengoperasionalkan ajaran alon-alon waton kelakon, maka mahasiswa yang kapasitas kemampuannya biasa-biasa akan selesai kuliah juga meskipun melebihi target waktu 8 semester.

Makna positifnya mengajarkan kesabaran dan tidak putus asa ketika dirinya tidak bisa seperti yang lain. Landasan falsafahnya, hidup bukanlah kompetisi tetapi lebih mengutamakan kebersamaan.
Banyak pula kita ketemukan Piwulang Kautaman yang berupa nasehat atau pitutur yang jelas paparannya.
Sebagai contoh adalah sebagai berikut :
“Ing samubarang gawe aja sok wani mesthekake, awit akeh lelakon kang akeh banget sambekalane sing ora bisa dinuga tumibane. Jer kaya unine pepenget, “menawa manungsa iku pancen wajib ihtiyar, nanging pepesthene dumunung ing astane Pangeran Kang Maha Wikan”.
Mula ora samesthine yen manungsa iku nyumurupi bab-bab sing durung kelakon. Saupama nyumurupana, prayoga aja diblakakake wong liya, awit temahane mung bakal murihake bilahi.
Terjemahannya:

“Dalam setiap perbuatan hendaknya jangan sok berani memastikan, sebab banyak sambekala (halangan) yang tidak bisa diramal datangnya pada “perjalanan hidup” (lelakon) manusia.
Sebagaimana disebut dalam kalimat peringatan “bahwa manusia itu memang wajib berihtiar, namun kepastian berada pada kekuasaan Tuhan Yang Maha Mengetahui”.
Maka sesungguhnya manusia itu tidak semestinya mengetahui sesuatu yang belum terjadi. Seandainya mengetahui (kejadian yang akan datang), kurang baik kalau diberitahukan kepada orang lain, karena akan mendatangkan bencana (bilahi).”
Piwulang Kautaman memiliki aras kuat pada kesadaran ber-Tuhan. Maka sebagaimana pitutur diatas, ditabukan mencampuri “hak prerogatif Tuhan” dalam menentukan dan memastikan kejadian yang belum terjadi.



                                                                  DenBagus Ahmad Djazuli javacommunity















pramuka sako


Meski masih belum mampu mengakomodir kebutuhan-kebutuhan dalam Satuan Komunitas Pramuka, terutama SAKO Pramuka SIT, Alhamdulillah, telah dikeluarkan Surat keputusan Kwartir Nasional Gerakan Pramuka nomor: 002 tahun 2012 tentang petunjuk penyelenggaraan Satuan Komunitas Pramuka.
Di antara yang belum terakomodir bagi Satuan Komunitas Pramuka SIT adalah mengenai Seragam. Dalam BAB V NAMA DAN ATRIBUT nomer 2. Mengenai Atribut, pada huruf b. dinyatakan bahwa Pakaian Seragam Sako sama dengan pakaian seragam yang berlaku bagi anggota Gerakan Pramuka sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan oleh Kwartir Nasional.


Sako Pramuka SIT sepakat untuk mengikuti aturan tersebut dengan beberapa penyesuaian di antaranya :
Penggunaan Jilbab bagi peserta didik putri digunakan sesuai dengan nilai-nilai dan keyakinan di lingkungan SIT yaitu menjulur keluar menutupi dada (bukan di masukkan ke dalam blous sebagaimana diatur dalam PP seragam)
Terkait dengan hal tersebut di atas maka pemasangan setangan leher bagi putri dipasang di luar jilbab tersebut
Blous yang digunakan menjulur keluar menutupi bagian pinggul hingga batas atas lutut (bukan dimasukkan sebagaimana diatur dalam PP seragam)
Selama ini, karena dianggap tidak sesuai dengan PP seragam tersebut, para peserta didik di lingkungan SAKO Pramuka SIT mengalami kendala, manakala mengikuti event-event resmi di lingkungan Gerakan Pramuka. Di mana mereka harus menyesuai dengan PP seragam tersebut padahal tidak sesuai dengan keyakinan dan kebiasaan yang selama ini ditanamkan di lingkungan internalnya. Seperti, di saat terpilih sebagai peserta JAMNAS, maka seragam yang mereka kenakan, bagi putri harus memasukan blousnya ke dalam rok atau celana panjang, jilbabnya juga harus dimasukkan ke dalam blous mereka, untuk anak putra harus menggunakan celana tiga perempat, bukan celana panjang yang selama ini biasa mereka kenakan.

Semoga pihak Kwartir Nasional dapat mengakomodir penyesuai seragam pada peserta didik dan pembina putri di pangkalan SAKO Pramuka SIT ini.

Sabtu, 03 November 2012

relawan klaster infokom



}  Tim Klaster Infokom
BADAN NASIONAL PENANGGULANGAN BENCANA
PELAKSANA
TIM PANITIA GELAR RELAWAN PENANGGULANGAN BENCANA TAHUN 2012
}  DEFINISI INFOKOM
1 INFORMASI : Pesan, berita atau data yang di peroleh dari  proses kejadian
2 KOMUNIKASI : Proses penyampaian pesan, berita atau data informasi kepada pihak lain
3 INFORMASI  dan KOMUNIKASI :pesan, berita atau data yang diperoleh dari proses kejadiaan untuk disampaikan kepada pihak lain.
}  TUJUAN
1). Sistem Telekomunikasi Nasional Penanggulangan Bencana
2). Sistem Siaga dan SOP (Sistem Operasi Prosedur) Telekomunikasi
3). Kelengkapan alat komunikasi
}  KENDALA
}  1. Kerusakan infra struktur akibat bencana (ketiadaan fasilitas telepon,listrik,sinyal cellphone)
}  2. Banyaknya sistem dan jenis alat komunikasi yang ada
}  3. Keterbatasan SDM dan keterampilan personel dalam berkomunikasi disaat tanggap darurat
}  SOLUSI
}  1. Merancang sistem komunikasi voice dan data yang mandiri dengan metode operasi yang semudah mungkin;
}  2. Menggunakan teknologi “intelligent interconnect”  yang mampu menangani radio “interoperability” (kemampuan beroperasi lintas radio);
}  3.Adanya pendidikan dan pelatihan untuk meningkatkan kreatifitas dan keterampilan relawan. 
}  REKOMENDASI vertikal
1. Perlu adanya penyampaian informasi yang
    memenuhi standar kode etik: Sopan, Ramah, Teratur
  1. Informasi yang disampaikan haruslah seakurat mungkin, informasi harus nyata dan konkret.
3. Perlu adanya pemilahan informasi yang
    dapat disampaikan ke publik dan privat
}  REKOMENDASI horizontal
  1. Relawan dapat menjadi media penyampai informasi antar lembaga/instansi yang bergerak dibidang informasi dan komunikasi mengenai ancaman dan resiko bencana.
  2. Relawan tidak mempunyai kewenangan untuk menyampaikan informasi kepada media masa.
}  Ketua : dede mulyono
sekr : nena
jubir / moderator : Ahmad Zazuli
TIM KLUSTER INFOKOM
“ ONE MAN, ONE ROLE, ONE CORP”


SEARCH AND RESCUE

.
Materi dasar Rescue

Search and rescue (SAR) adalah kegiatan dan usaha mencari, menolong, dan
menyelamatkan jiwa manusia yang hilang atau dikhawatirkan hilang atau menghadapi
bahaya dalam musibah-musibah seperti pelayaran, penerbangan dan bencana . Istilah
SAR telah digunakan secara internasional tak heran jika sudah sangat mendunia sehingga
menjadi tidak asing bagi orang di belahan dunia manapun tidak terkecuali di Indonesia.
Operasi SAR dilaksanakan tidak hanya pada daerah dengan medan berat seperti di
laut, hutan, gurun pasir, tapi juga dilaksanakan di daerah perkotaan. Operasi SAR
seharusnya dilakuan oleh personal yang memiliki ketrampilan dan teknik untuk tidak
membahayakan tim penolongnya sendiri maupun korbannya. Operasi SAR dilaksanakan
terhadap musibah penerbangan seperti pesawat jatuh, mendarat darurat dan lain-lain,
sementara pada musibah pelayaran bila terjadi kapal tenggelam, terbakar, tabrakan,
kandas dan lain-lain. Demikian juga terhadal adanya musibah lainnya seperti kebakaran,
gedung runtuh, kecelakaan kereta api dan lain-lain.
Unsur-unsur SAR
Dalam kegiatan SAR ada 4 unsur yang bisa dijadikan penentu keterampilan yang
dibutuhkan sebagai penunjang suksesnya suatu tim sar dalam melakukan operasinya,
yaitu :
1. Lokasi : kemampuan untuk menentukan lokasi korban. Hal ini memerlukan
pengetahuan menangani data peristiwa, keadaan korban, keadaan medan dan
lainnya.
2. Mencapai : kemampuan untuk mencapai korban. Hal ii memerlukan keterampilan
mendaki gunung, rock climbing, cara hidup di alam bebas, peta, kompas,
membaca jejak, dan lainnya
3. Stabilisasi : kemampuan untuk menentramkan korban dalam hal ini mutlak
diperlukan pengetahuan P3K, gawat darurat dan lainnya.
4. Evakuasi : kemampuan membawa korban. Hal ini memerlukan keterampilan
seperti halnya “Mencapai”.
Tahapan SAR
Ada beberapa tahapan SAR, Yaitu :
1. tahapan keragu-raguan, sadar bahwa keadaan darurat telah terjadi.
2. tahapan kesiapan, melaksanakan segla sesuatunya sebagai tanggapan terhadap
suatu kecelakaan, termasuk juga menadpatkan segala informasi mengenai korban.
3. tahapan perencanaan, pembuatan rencana yang efektif dan segala koordinasi yang
diperlukan
4. tahapan operasi, seluruh unit bertugas hingga misi SAR dinyatakan selesai
5. tahapan laporan, terakhir membuat laporan mengenai misi SAR yang telah
dilaksanakan.
Pencarain pada perasi SAR
Berikut adalah beberapa pola teknis pencarian pada operasi SAR. Hanya sebagain teknik
yang dibahas di sini, yaitu :
1. Track (T)
• Pola ini dipakai jika orang yang dinyatakan hilang dari jalur perjalanan yang
direncanakan akan dilewatinya merupakan satu-satunya informasi yang ada.
• Selalu dianggap bahwa sasaran (korban) masih disekitar atau dekat dengan
garis rute
Pola Track
2. Paralel (P)
• Daerah pencarian cukup luas dan medannya cukup datar
• Hanya mempunyai posisi duga
• Sangat baik untuk daerah pencarian yang berbetuk segi empat.
Pola Paralel
3. Creeping (C)
• Daerah pencarian sempit, panjang dan kondisinya cukup rata serta datar.
• Kalau di pegunungan gunung, regu pencari dengan ola ini kan turun kejurangjurang
atau dataran yang lebih rendah.
Pola Creeping
4. Square (SQ)
• Biasanya digunakan pada daerah yang datar
• Dengan pola ini perhitungan posisi juga harus merupakan kemungkinan yang
tepat
• Pembelokan tidak sembarangan, tetapi dengan perhitungan
C
D
A B
Pola Square
5. Sector (S)
• Lokasi atau posisi diketahui
• Daerah yang disari tidak luas
• Daerah pencarian berbentuk lingkaran
• Rute regu pencarian berbentuk segitiga sama sisi
Pola Sector
6. Contour (CT)
• Digunakan di bukit-bukit.
• Pencarian selalu dimulai dari puncak tertinggi
7. Barrier (B)
• Digunakan dengan hanya menunggu atau mencegat dengan perhitungan yang
pasti bahwa survivor akan lewat dengan melihat keadaaan lingkungan.
• Digunakan jika regu pencari dan penyelamat tidak bisa mendekati tempat
yang terkena musibah
Faktor-faktor yang mempengaruhi pemilihan pola pencarian
Dari sekian banyak pola pencarian, anda harus memilih yang paling tepat. Pemilihan
tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor berikut ;
• Ketepatan posisi survivor
• Luas dan bentuk daerah pencarian
• Jumlah dan jenis unit rescue yang tersedia
• Cuaca di dan ke daerah pencarian
• Jarak basecamp unit rescue ke lokasi musibah
• Kemampuan peralatan bantu navigasi di daerah kejadian
• Ukuran sukar dan mudahnya sasaran yang diketahui
• Keefektifan taktik yang dipilih
• Medan di daerah kejadian
• Dukungan logistik ke daerah pencarian
Taktik pencarian
Taktik pencarian dapat bervariasi, tergantung pada situasi tertentu. Secara umum hal itu
tercakup dalam lima metode pencarian, yaitu :
1. Taktik pendahuluan
Merupakan usaha-usaha untuk mendapatkan informasi awal, mengoordinir reguregu
pencari, membentuk pos pengendali, perencanaan, pencarian awal, dsb
2. Taktik Pembatasan
Menciptakan, membentuk garis lintas (perimeter) untuk mengurung korban dalam
area pencarian
3. Taktik Pendeteksian
Pemeriksaan terhadap tempat potensial dan juga menggunakan pencarian
potensial. Pada area tersebut diperhitungkan, ditemukannya korban ataupun jejak
atau segala sesuatu yang tercecer yang ditinggalkan korban
4. Taktik pelacakan
Melacak jejak atau sesuatu yang ditinggalkan korban, biasanya pelacakan ini
dilakukan dengan anjing pelacak atau orang yang terlatih mencari dan membaca
jejak
5. Taktik evakuasi
Memberikan perawatan dan membawa korban untuk perawatan yang lebih lanjut
jika diperlukan.

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | cheap international calls